Tidak banyak orang tua yang mampu untuk mengenali penyakit autis. Kebanyakan orang tua sering salah memperlakukan anak-anak penderita penyakit ini, karena umumnya akan-anak penderita autis selalu menunjukkan perilaku yang “menyimpang”.

Beberapa tanda autis sebenarnya bisa dideteksi mulai dari bayi lahir hingga anak berumur lima tahunan. Deteksi dini bisa mengurangi beban mental dan mempercepat penanganan maupun penyembuhan anak autis.

Autis terjadi pada 1 dari 700 orang dan lebih banyak terjadi pada laki-laki. Gejala autis biasanya sudah bisa terlihat sejak umur 18 bulan hingga 3 tahun. Beberapa tanda autis juga bisa diketahui sejak bayi.

Anak autis memiliki perkembangan otak yang tidak biasa dan menghasilkan sikap introvert (tertutup), tidak mau berinteraksi dengan lingkungan dan mungkin menjengkelkan bagi sebagian orangtua karena sikapnya yang seakan-akan tidak menurut.

Untuk mengetahui gejala-gejala bahwa seorang anak menderita autis ditandai yang dapat kita lihat di antaranya adalah:

Pertama, anak sering bahkan selalu melakukan kegiatan yang tidak ada artinya secara berulang-ulang,misalnya sengaja menabrak tembok dengan kedua telapak tangannya menyentuh tembok.

Kedua, kalau tertarik pada sesuatu biasanya sangat fokus dan bisa melakukannya dalam waktu yang cukup lama, misalnya pada saat bermain mobil-mobilan, ia selalu memutar-mutarkan rodanya, kelihatan sangat serius dan biasanya tak kurang dari 1 jam ia biasa melakukannya!

Penyakit ini bisa terjadi karena terdapat kandungan merkuri atau air raksa (Hg) yang berlebihan. Kandungan merkuri pada darah seseorang pada taraf toleransi maksimal hanya 1 ppm!

Dengan demikian selaku orang tua sudah sewajarnya kita mengingatkan pada diri kita sendiri maupun orang-orang yang ada di sekitar kita agar mengingatkan untuk selalu memperhatikan betul-betul perkembangan anak kita.

Logam-logam berat seperti air raksa atau merkuri tanpa kita sadari sangat akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari pewarna makanan, air yang tercemar logam berat, ikan laut yang tercemar, asap kendaraan bermotor dan masih banyak lagi.

Namun, satu hal yang mesti kita lakukan tetap terus mengupdate informasi tentang penyakit autis dan mulai waspadai makanan yang dikonsumsi anak-anak kita. Dan yang terpenting curahkan dengan penuh kasih sayang perhatian kita kepada anak-anak kita.

Jangan lekas merasa bersalah dengan menyalahkan diri karena tidak menjaga kandungan dengan baik selama kehamilan. Perlu diingat, lahirnya anak autis bukan kesalahan ibunya.

Anak autis hanyalah anak yang punya kondisi otak berbeda dengan anak lainnya. Sadari pula bahwa anak autis adalah anak spesial karena memiliki kemampuan yang berbeda dengan anak umumnya, oleh karena itu penanganannya pun harus spesial.

Lakukan konsultasi secara rutin dengan pakar dan jika perlu, masukkan anak ke sekolah khusus. Tapi jika kondisinya masih sedang dan tidak terlalu berat, cukup beritahukan pada gurunya bahwa ia butuh perhatian khusus. Yang perlu diketahui pula, penderita autis bisa disembuhkan asal rajin dan telaten mengawasi anak tersebut.

Jadi ketika suatu hari orangtua menyadari bahwa sampai usia 3 tahun anak tetap tidak memberi respons atau tidak bersikap interaktif seperti anak-anak lainnya, orangtua patut curiga ‘Mungkinkah anak saya autis?’