Ternyata bayi tak wajib pakai bedak. Apa sebab? Jikapun ingin membedakinya, boleh-boleh saja. Asal hati-hati. Jangan sampai mengenai alat kelamin, terutama pada anak perempuan.

Sehabis bayi dimandikan, biasanya para ibu akan membubuhkan bedak di tubuh si bayi. Begitupun setelah si bayi usai dibersihkan sehabis buang air, tak lupa dibedaki. Tujuannya agar kulit si kecil tak jadi kasar atau timbul lecet-lecet.

Hal ini, menurut dr. Darmawan B.S., Sp.A dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUPN-CM FKUI, sedikit banyak ada benarnya. “Bedak memang bisa untuk mengurangi keringat. Juga berfungsi sebagai pelicin karena kulit bayi masih sangat peka dan gampang luka akibat gesekan. Nah, dengan bedak, gerakan-gerakannya jadi lebih smooth,” terangnya.

Selain itu, bedak juga memberi kesegaran dan rasa nyaman pada kulit. Apalagi bedak kadang diberi kandungan bahan-bahan aktif, seperti mentol, yang membuat badan terasa adem dan nyaman dipakai.

TIDAK WAJIB!!!

Kendati demikian, penggunaan bedak pada bayi tidaklah wajib. Karena, seperti dituturkan Darmawan, tak memakai bedak pun sebetulnya enggak apa-apa. “Ibu-ibu memakaikan bedak pada anaknya, kan, biasanya secara otomatis. Karena sejak dulunya orang tua mengerjakan seperti ini.”

Alasan lain, karena kekhawatiran orang tua. “Takut anaknya merasa tak nyaman.” Tapi jika kulit si bayi terlalu sensitif alias gampang alergi, alasan ini justru bisa jadi bumerang. Karena pemakaian bedak hanya akan menambah alergi. Jadi, bukannnya melindungi kulit, malah membikin si kulit jadi terkena iritasi.

Bagaimana dengan bedak yang mengandung vitamin atau pelembab? Seperti kita ketahui, sekarang banyak dijual aneka bedak bayi dengan berbagai zat tambahannya, yang katanya untuk mengurangi iritasi. Menurut Darmawan, vitamin memang diperlukan oleh tubuh. Tapi penyerapan vitamin oleh kulit tak sekuat melalui alat cerna. Jadi? “Penggunaannya sebenarnya tak vital sekali,” tukas Darmawan.

Namun begitu, Darmawan menyerahkan keputusan pada para ibu untuk memilih bedak yang mana. Hanya harap diingat, biasanya harganya jadi lebih mahal daripada bedak-bedak bayi biasa. “Nah, nilai mahal ini sebanding tidak dengan manfaatnya?” ujar Darmawan.

Apalagi jika kondisi kulit si bayi termasuk kategori “bandel”. Artinya, tak masalah dengan bedak apa pun. Jadi mengapa harus memakai bedak yang istimewa. “Lebih baik pakai bedak yang biasa saja. Toh, itu cukup,” anjur Darmawan. “Bahkan tanpa diberi bedak juga tak apa-apa. Karena bedak sifatnya hanya untuk melicinkan atau menyamankan.”

Lain hal jika memang kulit si bayi jenis sensitif, “Mungkin ia bisa cocok dengan bedak-bedak yang diperkaya bahan-bahan tambahan tersebut,” kata Darmawan. Tapi itu pun masih tergantung pula pada daya penerimaan kulit si bayi. Jadi kalau sudah diberi bedak ternyata kulit si bayi tetap saja alergi, “Lebih baik tak diberi apa- apa.” Jikapun ingin tetap diberi bedak, anjurnya, gunakan bedak hipoalergenik, yang dibuat selembut mungkin dan tak menyebabkan hipersensitivitas.

SANGAT SENSITIF

Penting diingat, kulit bayi masih sangat sensitif. “Kulit bayi lebih tipis, baik epidermis maupun dermisnya, dibandingkan kulit orang dewasa. Selain itu, produksi kelenjar keringat dan minyak kulit bayi masih belum sempurna, sehingga kelembabannya harus selalu dijaga,” terang Darmawan. Itu sebabnya kulit bayi sangat peka dan mudah terkena iritasi. Baik karena masuknya benda luar, maupun akibat friksi atau gesekan.

Kesensitifan kulit bayi, selain disebabkan umur si bayi yang masih muda (0-1 tahun), juga dipengaruhi faktor keturunan atau bakat. “Ada, kan, orang yang lebih sensitif dari orang lain?” ujar Darmawan. Nah, begitu pula dengan kulit bayi.

Setelah usia 5 tahun, barulah kulit si anak sempurna seperti halnya kulit orang dewasa. Itulah mengapa anak usia di atas 5 tahun meskipun masih sering ngompol tapi kulitnya enggak apa-apa. Lantaran kulitnya sudah lebih tahan terhadap “serbuan” dari luar.

IRITASI VAGINA

Untuk para ibu yang terbiasa membedaki bayinya, Darmawan menganjurkan agar berhati-hati. “Jangan main teplok saja. Terutama di sekitar lipatan pahanya. Salah-salah si bedak bisa masuk ke vagina anak.”

Yang paling riskan memang untuk alat kelamin wanita. Kalau alat kelamin lelaki, menurut Darmawan, relatif lebih aman. Karena strukturnya relatif lebih terlindungi. Berbeda dengan kelamin wanita, yang lebih terbuka, sehingga mudah terkena infeksi akibat masuknya benda-benda yang tak diinginkan. Contohnya serbuk bedak ini.

Seperti dituturkan Darmawan, kulit di bagian dalam saluran reproduksi wanita, termasuk vagina, sangat halus. Kulit ini disebut mukosa. Nah, mukosa ini susunan selnya berbeda dengan kulit luar. Kalau kulit luar, dilapisi oleh epitel gepeng, sehingga relatif lebih kuat gempuran dari luar. Tapi yang mukosa, epitelnya berbentuk batang atau kubus sehingga lebih halus dan sensitif. Jadi kalau ada serbuk bedak yang masuk, akan menyebabkan iritasi.

Untuk mengetahui ada-tidak iritasi, lihatlah apakah ada tanda-tanda radang atau tidak. Tanda-tandanya ialah seperti ada tumor (bengkak), rubor (kemerahan), dolor (nyeri), dan kalor (panas)). Nah, bila ada tanda-tanda tersebut berarti terdapat iritasi.

SEMBUH SENDIRI

Selain karena masuknya serbuk bedak, radang di daerah vagina juga bisa disebabkan masuknya zat-zat lain. Misalnya ketumpahan susu atau kemasukan sampo kala mengeramasinya. Bahkan, tangan pembantu atau pengasuh yang tak bersih, habis memegang sesuatu lalu menceboki si bayi tanpa cuci tangan dulu, sehingga kotorannya masuk ke dalam.

Namun demikian, para ibu tak perlu terlalu khawatir. Karena serbuk bedak biasanya tak sampai masuk ke dalam vagina. “Paling-paling hanya di bagian mulut vagina saja, sehingga radang tersebut hanya jangka pendek saja. Juga tak menyebabkan mengkristal atau hal lainnya yang akan mengakibatkan gangguan reproduksi kala besar nanti,” tutur Darmawan.

Radang ini biasanya akan sembuh dengan sendirinya. Karena tubuh mengalami regenerasi. Ia akan menciptakan zat antinya sendiri, sehingga tanpa diapa-apakan pun akan sembuh dengan sendirinya. Tapi bukan berarti kita lantas boleh ceroboh, membiarkan hal itu terus terjadi, lo.

Makanya Darmawan menganjurkan, sebaiknya bersihkan daerah vagina dengan cairan antiseptik. Tentunya yang sudah diencerkan dengan air. Cairan ini bisa membunuh kuman-kuman yang terdapat di daerah kelamin.

CARA TEPAT MEMBEDAKI

Ada ibu yang membedaki bayinya dengan menggunakan puff (spon bedak), tapi ada juga yang menggunakan tangan si ibu. Manapun yang dipilih, sama baiknya. Hanya saja, seperti dituturkan Rini Budiyanti, Senior Brand Manager Cussons, membedaki bayi dengan menggunakan tangan si ibu mempunyai nilai lebih. “Sentuhan atau usapan tangan si ibu di tubuh bayi dapat lebih mempererat hubungan batin dengan si bayi,” katanya.

Bila menggunakan puff, Rini menyarankan untuk menyediakan lebih dari satu. Yang agak tebal dan tipis. “Gunakan puff yang agak tebal untuk bagian pantat, sedangkan yang tipis untuk bagian wajah.” Sebaiknya pilih puff dari bahan katun. Jangan lupa untuk mencucinya, minimal seminggu sekali, agar terhindar dari tumbuhnya jamur.

Saat membubuhi bedak di tangan atau puff, jangan dekat-dekat dengan wajah si bayi. Sehingga serbuknya tak bertaburan dan masuk ke jalan nafas bayi.

Jangan pula membedaki bayi saat kulitnya tengah berkeringat. Karena bedak yang bercampur keringat akan menempel di permukaan kulit sehingga saluran keringat tersumbat. Akibatnya keringat tak keluar dan terjadilah keringat buntet.

Sebaiknya kulit dibasuh dulu dengan lap basah, lalu dikeringkan dengan lap bersih. Setelah itu barulah dibubuhi bedak. “Jadi fungsi bedak untuk menyerap keringat,” kata Rini.

Jika tak pakai bedak, bisa digunakan baby oil. Baby oil ini fungsinya juga untuk membuat kenyamaan. Yaitu melindungi kulit agar lembut, sehingga tak terluka saat terjadi gesekan.

Sumber