Dalam buku The Consumera’s Guide to Childhood Vaccines, Barbara Loe Fisher, pendiri dan presiden pusat informasi vaksin nasional (yang didirikan untuk mencegah kerusakan tubuh dan kematian akibat vaksin melalui pendidikan umum) menjelaskan proses pembuatan vaksin sebagai berikut :

Vaksin Cacar : Perut anak sapi dicukur kemudian diberikan banyak torehan pada kulitnya. Kemudian virus cacar diteteskan pada torehan itu dan dibiarkan bernanah selama beberapa hari. Anak sapi tersebut dibiarkan berdiri dengan kepala terikat supaya tidak dapat menjilati perutnya. Kemudian anak sapi itu dikeluarkan dari kandang dan dibaringkan diatas meja. Perutnya memborok dan bernanah, nanahnya diambil lalu dijadikan serbuk. Serbuk itu adalah bahan vaksin cacar, virus yang kebetulan terdapat pada anak sapi terbawa kedalamnya. (Walene James, Pengarang Immunization: The Reality Beyond the Myth)

(Naudzubillah. Untuk vaksin ini dihasilkan dengan cara yang sangat buruk dan perlakuan yang sangat kejam terhadap hewan)

Reaksi Tubuh Terhadap Vaksin

Apabila ramuan vaksin tersebut memasuki aliran darah anak. Tubuhnya akan segera bertindak untuk menyingkirkan racun tersebut melalui organ ekresi atau melalui reaksi imun seperti demam, bengkak atau ruam pada kulit. Apabila tubuh anak kuat untuk meningkatkan reaksi imun, tubuh anak mungkin akan berhasil menyingkirkan vaksin tersebut dan mencegahnya terjangkit kembali dimasa yang akan datang. Akan tetapi jika tubuh anak tidak kuat untuk meningkatkan reaksi imun, vaksin beracun akan bertahan dalam tisu tubuh.

Timbunan racun ini dapat menyebabkan penyakit seperti diabetes pada anak-anak, asma, penyakit neurologi, leukimia, bahkan kematian mendadak. Ratusan laporan mencatat efek samping jangka panjang yang buruk terkait vaksin seperti penyakit radang usus, autisme, esenfalitis kronis, skelerosis multipel, artritis reumatoid dan kangker. Sebagian vaksin juga diketahui menyebabkan efek samping jangka pendek yang serius. Pada tanggal 12 Juli 2002, Reuters News Service melaporkan hampir 1000 pelajar sekolah dilarikan ke rumah sakit setelah disuntik vaksin Ensefalitis di timur laut negeri Cina. Para pelajar itu mengalami demam, lemas, muntah dan dalam beberapa kasus terkena serangan jantung setelah divaksinasi.

12 Hal Yang Harus Diperhatikan

  1. Dokter tidak mampu menjamin keamanan dan efektifitas vaksin.

  2. Keamanan vaksin belum diuji dengan benar.

  3. Vaksinasi didasarkan pada prinsip yang tidak kokoh, sehingga dapat dipertanyakan.

  4. Vaksin mungkin tercemar.

  5. Efek samping jangka panjang yang serius.

  6. Menimbulkan penyakit yang seharusnya dapat disembuhkan.

  7. Tidak dapat melindungi dari penyakit menular.

  8. Vaksin berhubungan dengan wabah penyakit.

  9. Vaksin tidak dapat dipercayai : vaksin tidak resisten terhadap penyakit tetapi resisten terhadap kesehatan.

  10. Dokter dan profesional kesehatan jarang melaporkan efek buruk vaksin.

  11. Dokter menolak vaksinasi. (walau mungkin hanya sebagian kecil yang menolak vaksinasi)

  12. Vaksinasi lebih mengutamakan keuntungan daripada mengobati.

Semakin jelas sudah apa tujuan sebenarnya vaksinasi dan imunisai bagi kaum muslimin. Disamping tujuan bisnis ada tujuan terselubung dari yang menginginkan umat Islam menjadi lemah dan sakit, baik jasmani maupun rohaninya.

Jika tubuh buah hati kita ataupun orang dewasa yang sudah terkena vaksin dan imunisasi maka tugas kita selanjutnya adalah menguatkan sistem imunitas tubuh dengan cara yang alami, halalan thoyyiban. Kemudian lakukanlah detoksifikasi (pembuangan racun), baik itu dengan bekam, gurah, terapi lintah dan sebagainya. Shaum juga insya Allah akan dapat mendetoks tubuh kita dari berbagai macam racun, baik jasmani maupun rohani.

Saya disini hanya menyampaikan, adapun yang memiliki perbedaan pendapat silahkan saja. Setiap perbedaan kita kembalikan kepada Al-Qur’an wa Sunnah. Kita kaji bagaimana hukumnya dari sisi Syar’i. Wallahu ‘alam.